wisatamelayu.com
Bersahabat dengan Damai di Pura Ulun Danu Beratan
AIR Danau Beratan bergerak tenang tertiup angin. Riak airnya nampak bersahabat dengan kedamaian. Harmoni alam ini berpadu selaras dengan kehadiran sebuah Pura bernama Ulun Danu Beratan yang berdiri kokoh di tepian danau.
Pura Ulun Danu Beratan atau yang kerap disingkat menjadi Pura Ulun Danu, merupakan pura terbesar di Bali setelah Pura Besakih. Nama pura ini merujuk pada lokasinya yang berdiri di tepi Danau Beratan.
Lokasi pura ini cukup istimewa karena berada di dataran tinggi Bedugul, yakni sekitar 1.239 meter di atas permukaan laut. Kondisi demikian membuat lingkungan pura cukup sejuk, dengan temperatur udara antara 18-22 derajat celcius. Selain itu, lansekap Danau Beratan yang asri juga menambah suasana indah tempat ini
Suasana asri, sejuk, dan udara yang bersih mulai terasa sejak Anda menginjakkan kaki di lahan parkir menuju pura. Dari tempat parkir ini, Anda terlebih dahulu harus membeli karcis seharga Rp7.500 untuk memasuki lingkungan pura.
Perjalanan dilanjutkan dengan melewati jalan setapak yang dihiasi bunga-bunga, hamparan rumput, serta pepohonan cemara yang menghijau. Jalan setapak ini mengarah pada pintu masuk menuju pura (gapura). Sebelum memasuki gapura, Anda bisa melihat bangunan stupa (candi Buddha) yang masih digunakan sebagai tempat ibadah.
Tidak jauh dari areal pura, juga terdapat bangunan masjid sebagai tempat ibadah untuk umat muslim. Keberadaan stupa dan masjid ini mengingatkan kita betapa toleransi beragama sudah dipraktekkan sejak lama oleh masyarakat Bali.
Ketika kaki melangkah memasuki gapura, Anda akan melihat bangunan pura khas Bali yang dicirikan oleh menara bertingkatnya (meru). Di dalam kompleks pura setidaknya terdapat beberapa bangunan bermenara yang memiliki atap bertingka.
Keberadaan menara bertingkat tersebut menggambarkan pemujaan terhadap tiga dewa, yakni Dewa Wisnu (11 tingkat), Dewa Brahma (7 tingkat), dan Dewa Siwa (3 tingkat).
Meskipun dianggap sebagai tempat pemujaan kepada trimurti (Dewa Wisnu, Brahma, dan Siwa), namun sebetulnya pura ini semula merupakan tempat untuk memuja Dewa Siwa dan Dewi Parwati, yang merupakan simbol bagi kesuburan.
Selain menjadi situs bersejarah yang merekam perkembangan ajaran Hindu pada masa Kerajaan Mengwi, kompleks Pura Ulun Danu Beratan juga menyimpan artefak lain yang berasal dari zaman megalitik (sekitar 500 tahun sebelum Masehi). Tepat di sebelah kiri halaman depan pura, Anda dapat menemukan sebuah sarkofagus dan papan batu.
Jika Anda merasa tidak puas dengan hanya memandangi keindahan pura, dapat menyewa perahu tradisional atau perahu motor untuk mengelilingi danau. Atau, jika ingin menjajal tantangan berbagai permainan air, dapat pula menyewa permainan parasailing, bana boat, serta jetski.
Untuk sekedar menghabiskan waktu, Anda juga bisa memancing di tepi danau, tepatnya di bawah rimbunnya rumpun bambu. Apabila menginginkan suasana hutan dengan buah-buahan yang menggoda selera, Anda dapat menuju Kebun Raya Eka Karya yang terletak sekitar 300 meter dari Danau Beratan.
Pura Ulun Danu Beratan terbuka untuk kunjungan wisatawan antara pukul 08.00-18.00 WIT. Namun, apabila area pura sedang berkabut, lokasi pura akan ditutup lebih cepat untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.
Pura Ulun Danu Beratan berjarak sekitar 45 kilometer dari pusat Kota Tabanan, atau sekitar 55 kilometer dari Kota Denpasar. Untuk menuju pura ini, Anda dapat menggunakan taksi, bus pariwisata, maupun agen perjalanan menuju jalur Denpasar-Singaraja. Lokasinya yang berada di pinggir jalan raya, akan mudah ditemukan. (wisatamelayu.com/X-12)
Sumber : mediaindonesia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar