Home » » 8 Jam Bersama Pelangi

8 Jam Bersama Pelangi

Home > Kabar Berita > Wisata > 8 Jam Bersama Pelangi

KOMPAS/LASTI KURNIA
ilustrasi

8 Jam Bersama Pelangi
Cerpen Nihayatul Wafiroh

Sambil kutenteng laptop dan menyembunyikannya dalam jaket, aku berlari menembus hujan. Langkahku semakin cepat ketika hujan yang rintik-rintik telah berubah menjadi sangat deras. Tanpa menghiraukan lagi satpam yang keheranan melihatku tergesa, aku segera menuju lantai 2 di pojok ruangan mall yang menyediakan hot spot. “Tidak bakal aku akan basah kuyub begini, kalau saja jaringan internet di ruanganku tidak bermasalah,” umpatku dalam hati sambil segera menghidupkan jaringan wirelessku.

Ada apa lagi dengan jaringan wireless ini?, sudah sepuluh menit berlalu, tapi tak juga bisa dibuka internetnya. Dengan hati yang seperti menderu berkejaran dengan waktu aku coba minta bantuan petugas cafe yang kebetulan lewat. Waktuku tinggal tiga puluh menit lagi, sebelum aku harus kembali ke rumah untuk menyiapkan makan malam untuk dia. Aku tidak ingin kehilangan keindahan hanya karena jariangan yang tidak bersahabat.
***
Entahlah waktu seakan terus membujukku dan membawaku berlari menyusuri keindahan yang bersemi. Tak henti-hentinya aku tengok jam di laptop, sejurus kemudian aku melirik jam yang ada di pojok ruangan untuk sekedar menyakinkan kalau laptopku tidak memberikan informasi yang salah. Tapi itu tak juga membuatku puas, aku beranjak merogoh jam tangan yang aku selipkan di jaket. Ah memang jam belum beranjak dari pukul enam pagi waktu daerahnya, padahal di ujung Indonesia timur dimana aku tinggal sekarang waktu sudah mendekati pukul delapan pagi.

Kenapa dalam minggu-minggu ini aku selalu gelisah menantikan matahari beranjak naik. Menunggu waktu menuju di satu titik di mana aku bisa melihat namamu menjadi berwarna dalam deretan list yang ada di ruangan obrolan maya ini menjadi saat-saat yang mendebarkan, bak menunggu hujan yang mengantarkan warna pelangi indah.

Bahkan aku akan bergegas membereskan semua tugas-tugas hari itu agar bisa menemanimu delapan jam ke depan. Biar kamu tidak perlu menungguiku yang harus berkejaran dengan deadline yang harus aku setorkan ke atasan.
“Apa kabar hari ini?” ah sapaan sederhana itu selalu mengantarkan senyum di bibirku. Seakan jarak yang berspasi tak terhitung dan rentang waktu yang terpisah tidak membuat kami terhenti dalam kelarutan.
“Sayang, rasa ini telah bertunas, dan perlahan telah menjadi bunga yang mekar,” itu kata-kata yang selalu mampu menghipnotis dan membuatku semakin bersemangat untuk menyirami rasa ini hingga nantinya aku bisa menyimpan bunga-bunganya dalam sisi hatiku, bersanding dengan hati lainnya.
“Aku akan menunggu rasa itu sampai menjadi belantara, hingga bisa menyembunyikan kita berdua dalam kegelapan yang indah, yang tak terlacak,” ucapku sambil berusaha berpeluk denganmu dalam maya.

Pagi ini aku buka pesan offline yang pasti dia kirimkan dari HP, “Malam ini aku mengirimkan seorang bidadari cantik untuk menemanimu tidur, tapi bidadari itu pulang dengan menangis. Dia merasa tersaingi dengan kecantikanmu.” Aku hanya tersenyum tipis membacanya. Aku tahu itu sekedar omong kosongmu saja, tapi tetep saja aku menyukainya, dan selalu menunggu pesan-pesan offlinemu tiap pagi.
***

Dia adalah seorang yang baru aku kenal sekitar dua bulan lalu dalam sebuah jaringan obrolan maya. Entah apa yang special dari seorang yang usianya baru memasuki kepala tiga ini, hingga aku menerima permintaannya untuk bergabung dalam jajaran nama kawan-kawanku yang sudah mulai penuh sesak ini. Sebenernya aku bukan orang yang akan mudah menerima tawaran orang untuk berteman, bila aku tidak benar-benar yakin. “Itu namanya kita jodoh,” ucapnya sambil kulihat senyumnya dari cam yang aku posisikan di pojok bawah kanan layar laptopku.

Kedekatan kami berawal ketika kami sering menghidupkan computer berbarengan, walaupun tidak pernah janjian. Kecapekan dengan tugas-tugas kantor, membawa kami sering membunuh waktu bersama-sama dengan bercerita banyak hal. Hingga dalam satu titik kami sadar bila kami telah kecanduan dengan obrolan ini. Kami menjadi memiliki rasa yang luar biasa untuk tidak melewatkan seharipun tanpa saling bercerita.

Kami tidak pernah tahu dengan rasa yang tiba-tiba menjelma seperti coklat, yang selalu menggoda kami untuk melumatinya. Bahkan kami tidak pernah menemukan kata-kata yang tepat untuk melabeli rasa yang ada dalam hati kami. Kami hanya merasakan seperti menemukan sisi lain dari diri kami. Usaha kami untuk mematikan rasa itu ternyata tidak sekuat derasnya rasa itu menerjang kami, hingga kami tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya mengikuti kemana rasa itu pergi.

Aku seperti melihat pelangi dalam dirinya, pelangi yang selalu menawarkan keindahan dengan warnanya. Dia bukan hanya merah, tapi dia juga hijau dan kuning yang merentang indah. Kami selalu ingin menjadi pelangi, yang selalu bersama untuk memberikan keindahan. Kami tidak perlu menunggu bumi basah oleh hujan, untuk menikmati pelangi, karena kami sudah menyimpannya dalam hati kami.
Memang hanya ruangan ini milik kami, sebatas monitor dan key board yang tak bergerak, bahkan ruangan kami sangat tergantung dengan jaringan internet. Ketika hujan datang dan jaringan global ini terganggu, maka terputus juga ruangan kami. Tapi kata-kata telah mampu membungkus hati kami.
Kami seakan tidak perduli lagi dengan terbatasnya ruangan. “aku tidak bisa menyentuhmu dengan tanganku, tapi aku selalu memelukmu dengan jiwaku,” itu katanya untuk meyakinkan betapa dia sayang padaku.

Aku tidak pernah tahu bau keringatnya. Aku juga belum pernah mengukur setinggi apa diriku bila berdiri di sisinya. Aku hanya mengenal suaranya yang sedikit berat ketika sekali atau dua kali dalam seminggu aku mencoba membunuh rinduku dengan menelfonnya. Aku juga hanya bisa menikmati wajah manis dengan hidung mancungnya dari layar kotak kecil yang terekam dalam webcam, itupun hanya setiap akhir pekan, saat dia bisa kabur sebentar ke warnet yang menyediakan fasilitas camera.
Tapi kami tidak pernah perduli itu semua, kami selalu membawa obrolan ini dalam nyata yang tak tersentuh. Bahkan kami telah berulang kali saling melumat bibir dan berpelukan dengan beralaskan pelangi yang melengkung di langit. Kami sering berlari berkejaran dengan dahaga yang serasa berburu setelah berulang kali kami saling memuaskan.

Aku seperti benar-benar merasakan hangat dan lembutnya bibirnya. Aku bahkan telah menyalurkan semua rasa yang ada didadaku ke dalam pelukanku, agar dia mengerti betapa besar rasa yang tak bernama ini telah memperangkapku.
***
Teetttttttttttttttttt
Dari ujung telfon aku mendengar bunyi bel yang pasti memekaknya telinga seiring dengan kumatikan telfon. Sedetik kemudian, kamu sudah mengirimkan pesan,
“Sayang, kamu dengarkan bunyi bel tadi? Aku harus pulang.” Aku masih terpaku di depan laptopku, tanpa mampu menjawab pesannya yang terpampang di depanku. Ada rasa miris menyergapku.

Ternyata waktu telah berjalan 8 jam.
“Pelangiku, aku harus menjemput Ibunya Nina di kantor, aku tidak enak bila terlambat menjemput.” Pesan keduanya muncul, yang kemudian diikuti dengan pesan bertubi-tubi lainnya, yang isinya hanya untuk meyakinkanku kalau aku akan memilikinya esok hari seiring dengan bel masuk kantor. Dia juga berusaha untuk menghiburku dengan ucapan sayangnya, dan berpuluh-puluh icon yang menunjukkan dia mencium dan memelukku. Dan akhirnya aku hanya mampu menulis “Aku sayang kamu” sedetik sebelum aku melihat dia sign out.

Terbayang di mataku, bagaimana dia akan menikmati sore ini dalam pelukan perempuan yang duduk di belakang boncengannya sambil menyusuri kota Jakarta yang macet, dan kemudian malaikat-malaikat kecilnya akan menyambut dengan senyum di depan pintu rumah. Dan, dia akan melewati malam dalam dekapan istri cantiknya yang bak kupu-kupu yang selalu memberikan keindahan dalam hidupnya.

Tinggallah aku harus mengatur hati, berusaha membawa diriku kembali dalam realita yang ada, sebelum aku beranjak untuk meninggalkan pojokan ruangan mall. Di bawah rintik gerimis, aku mendekap erat laptop yang aku sembunyikan di balik jaket. Dalam sepuluh menit, aku akan sampai di dapurku. Tempat di mana aku dan suamiku biasanya akan menikmati makan malam bersama sepulang dari tempat kerja kami masing-masing.

Hawaii, March 10, 2009

Sumber : http://oase.kompas.com/
Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Paket Tour Wisata - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger