Home » » Arezzo Leluhur Solmisasi

Arezzo Leluhur Solmisasi

Home > Kabar Berita > Wisata > Arezzo Leluhur Solmisasi

KOMPAS/SALOMO SIMANUNGKALIT
Jalan-jalan sempit bertanjak warisan berabad-abad lalu dan tetap terpelihara digunakan pula sebagai lintasan arak-arakan mobil yang jadi tontonan warga setempat pada Sabtu (18/9/2010).

Arezzo Leluhur Solmisasi

Oleh: Salomo Simanungkalit

Kota leluhur metode modern membunyikan nada ini menyandingkan kejayaan peradaban abad pertengahan dengan wajah modern khas kota kecil Italia masa kini.

Lawatan kali ketiga saya ke Italia yang berlangsung di musim gugur tahun ini adalah untuk mendampingi sebuah paduan suara berbasis di Batavia yang hendak berlaga di Kota Arezzo. Suasana musikal membalut perjalanan kami dengan bus selepas dari Bandar Udara Leonardo da Vinci di Fiumicino, Roma. Suara terlatih melantunkan sepotong lagu Neapolitan seolah mengingatkan bahwa kami telah belasan jam meninggalkan Bandara Soekarno-Hatta.

Beberapa dari 40 anggota kor itu—di dalam bus—sibuk berlatih mandiri beberapa bagian sulit sebuah komposisi. Ya, berlatih sendiri sambil masing-masing pegang garpu tala. Benarlah nasihat Maria kepada anak-anak Von Trapp dalam The Sound of Music bahwa when you know the notes to sing, you can sing most anything.

Masih ingat bagian film itu? Maria membelakangi kusir, berhadapan dengan anak- anak itu: Doe, a deer, a female deer/Ray, a drop of golden sun/Me, a name I call myself/Far, a long, long way to run... Once you have these notes in your heads, you can sing a million different tunes by mixing them up.

Namun, kami tak sedang menuju Salzburg, kota-latar anak-anak Von Trapp akhirnya jatuh hati kepada Maria, calon biarawati, untuk dipersunting ayahnya sebagai ibu tiri. Kami hendak ke Arezzo! Apabila penonton film merasa Maria von Trapp yang mengintroduksi solmisasi sejak 1965, saat The Sound of Music dapat lima Oscar, maka kaum terdidik dalam musik mengenal Guido d’Arezzo, penemu do-re-mi-fa-sol-la sebagai metode mudah pembunyian nada-nada diatonis.

Guido lahir di Paris kira-kira tahun 995, hijrah ke Arezzo sekitar tahun 1025, dan bekerja di situ antara lain sebagai pelatih nyanyi di beberapa katedral. Di kota ini, Guido menemukan solmisasi, metode belajar musik yang mempermudah seseorang menyeberang dari satu nada ke nada lain dalam garis melodi. Atas inovasi mendasar dalam seni suara itu, Paus mengundangnya ke Roma (1028) untuk mendengarkan uraiannya tentang solmisasi. Sebab, berkarya di Arezzo, Guido mendapat imbuhan bagi nama depannya: ”Guido dari Arezzo” atau dalam cara Italia ”Guido d’Arezzo”.

Tak terasa perjalanan tiga jam ke arah timur laut Roma itu berakhir. Ini Kota Arezzo. Bus kami berhenti di sisi jalan beraspal. Rumah pemalaman masih sekitar setengah kilometer. Kami harus berjalan kaki menuju seminari tempat menginap sambil menyeret koper melintasi jalan sempit dengan tanjakan tajam yang tersusun dari batu-batu. Kasat- mata sempit memang, tetapi jalan batu itu masih bisa dilintasi dua mobil berlawanan arah. Bus dilarang masuk. Itulah jalan peninggalan abad pertengahan yang khas di kota-kota Italia dan terus dirawat dengan baik pemerintah kota hingga saat ini. Berbeda dengan jalan di Indonesia yang hari ini diaspal, purnama berikut berlubang, dan dibiarkan berbulan sampai musim pilkada tiba.

Dua wajah

Dengan luas 386,25 kilometer persegi dan berpenduduk hampir 100.000 jiwa, Arezzo yang berada 296 meter di atas permukaan laut itu adalah kota dengan dua wajah: kuno dan masa kini. Di bagian utara dan berbukit adalah wajah kunonya, tempat bangunan abad ke-10 hingga abad ke-16 berkumpul dan berakhir dengan apa yang disebut sebagai gerbang kota kuno. Di bagian selatan yang relatif dataran adalah bagian kota yang dibangun kemudian dan kuat pancaran abad keduapuluhnya.

Kami menginap di bagian berwajah kuno. Lomba paduan suara internasional tahunan bernama Concorso Polifonico Internazionale ”Guido d’Arezzo” itu—tahun ini adalah kali ke-58—juga berlangsung di sini. Tepatnya di aula Sala San’t Ignazio dengan akustik lumayan.

Di kawasan kuno Arezzo setiap orang diingatkan akan perlunya waktu. Tentu bukan dengan slogan ”waktu adalah uang”, melainkan oleh bunyi lonceng gereja dan lonceng jam yang dipasang di menara-menara. Saban setengah jam berdentang dari berbagai mata angin. Pada dentangan ketujuh di pagi hari saya mencoba mencari sumber bunyi. Belum beberapa menit mengayunkan langkah turun, tersua Basilika San Francesco yang dibangun pada abad ke-14 bergaya Gothik.

Dengan interupsi colazione, yakni sarapan pagi ala Italia berupa secangkir cappucino dan sepotong carnetto, dan hanya mengandalkan sepasang kaki sudah terliput 16 gedung gereja—entah basilika entah katedral—yang dibangun pada abad ke-10 hingga abad ke-16 dengan berbagai masa renovasi. Menyebut beberapa contoh: Santa Maria della Pieve, Basilika San Domenico, Santa Maria in Gradi, dan Pieve di San Paolo. Masih tersua di beberapa gereja penduduk setempat datang berdoa pagi di hari biasa.

Apabila masih kuat dan mau tuntas ziarah di Arezzo, dalam sehari tempat penting bersejarah di kawasan kuno bisa terliput hanya dengan berjalan kaki. Pernah menjadi kota ketiga termegah di Italia sebelum abad ke-10, Arezzo merupakan satu dari sedikit kota di Italia yang masih menyisakan bukti arsitektonik kota abad-abad pertama, berupa Ampitheatre yang dibangun dalam kurun 117-138. Berada di tengah kawasan kuno, Ampitheatre cukup tersembunyi sebab dikawal beberapa bangunan.

Sering disebut dalam ranah pelancongan bahwa Toscana merupakan pintu sempurna memasuki dolce vita atau masa-masa kehidupan manis di Italia. Arezzo dan Firenze berada di kawasan Toscana. Apabila punya waktu mewah, nikmatilah dolce vita itu di Firenze. Jika Anda hanya satu-dua malam, Arezzo adalah pilihan pas.

Kawasan kuno tentu tak melulu beraroma abad pertengahan. Kehidupan berjalan terus di sini. Gerai merek terkenal Italia sekelas Gucci banyak beroperasi di kawasan dengan jalan batu sempit itu. Mode agaknya bagian inheren bagi tubuh Italiana ataupun Italiano. Jangan kaget bertemu dengan pria Italia di Arezzo mengenakan pantalon kuning, merah, dan hijau. Bahkan, pantalon dan kemeja berwarna ungu. Pernahkah kau merasa...?

Jangan lupa menikmati ”versi asli” makanan Italia yang Anda jumpai di Jakarta. Ristorante adalah restoran bersifat formal dengan menu lengkap. Trattoria restoran sederhana dengan tidak banyak menu. Tavola calda restoran swalayan panas cepat saji. Pizzeria tempat jual piza. Tak satu pun tempat makan dan minum Amerika yang merakyat di Jakarta tersua di kawasan kuno Arezzo.

Sore terakhir, sekali lagi saya mampir di Piazza Guido Monaco di tengah kota dan duduk berjarak nyaman dari patung Guido d’Arezzo. Hujan datang. Anak muda berdarah Banglades menjajakan payung buatan China. Air hujan di jalan mengalir tanpa hambatan mengikuti jalur-jalur batu. Tak ada genangan. Saya menyeberang dan masuk toko musik. CD, kaset, dan LD dari beragam genre. Dua album Anggun masing-masing tinggal sekeping. Cukup laku rupanya.

Sumber : http://travel.kompas.com/
Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Paket Tour Wisata - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger