MI/Christine F
Memadukan Dua Potensi Bumi Herbal Dago
Penulis : Christine Franciska
MENGUNJUNGI Bumi Herbal Dago (BHD), Bandung, Anda akan melihat banyak tumbuhan yang terasa asing dan unik. Sekadar menyebut ada pohon thyme yang berdaun kecil dan hijau, mint, daun dewa, tapak dara yang lebih sering disebut-sebut dalam dunia pengobatan tradisional (herbal).
Siapa sangka di lokasi perbukitan itu, yang kini sudah menjadi salah satu distinasi wisata di Bandung, Jawa Barat, dulunya merupakan lahan miring yang gundul dan gersang.
Warga di sana hanya menanaminya dengan sayuran. Saat kemarau tiba, lahan itu tak banyak dimanfaatkan. "Bukit jadi gundul, terlihat coklat, tidak terurus," ujar Joko, salah seorang pegawai di BHD.
Dalam perkembangannya, distinasi wisata saat ini memang tidak harus menyajikan pemandangan alam eksotik atau fasilitas belanja yang wah. Di Malaysia, misalnya, sudah mengawalinya dengan menyatupaketkan wisata dengan fasilitas rumah sakit untuk berobat.
Pemikirannya sederhana. Orang sakit tidak mungkin datang sendirian untuk berobat, pasti ada keluarga yang mengantarnya. Maka tidak ada salahnya, bahkan ide ini terbilang cerdik, pengantar si pasien sambil menunggu proses pengobatan, mendapat suguhan wisata yang rileks dan menarik. Akhirnya vulus dari wisatawan pun semakin deras mengalir.
Selalu ada cerita di Bumi Herbal Dago. Melihat tidak terawatnya lahan luas dan potensi pemandangan alam perbukitan yang eksotik menimbulkan inisiatif manajemen BHD untuk menggabungkan wisata dengan dunia herbal. Tidak salah lagi, perpaduan konsep herbal dan wisata ini ternyata banyak mendapat sambutan hangat dari masyarakat hingga dari luar Bandung.
"Cara menggunakan tanaman herbal ini mudah. Cukup rebus daunnya, lalu diminum secara teratur. Untuk mendapatkan manfaat, daunnya harus diekstraksi. Dan cara ekstraksi yang paling mudah ya direbus," ujar Joko yang dengan semangat menjawab setiap pertanyaan dari pengunjungnya tentang pengobatan herbal.
Untuk memudahkan pengunjung mengenali tanaman herbal yang dikembangkan, BHD pun menyediakan catatan yang informatif. Diakui oleh Joko, setiap pengunjung yang datang memang membutuhkan perhatian dan pelayanan yang baik. Sebab, sebagian besar di antara mereka memiliki rasa ingin tahu tentang dunia herbal. Itu juga yang dijadikan alasan para pengunjung mendatangi BHD meski harus menempuh perjalanan yang tidak selalu mulus.
Untuk lebih mengembangkan pengetahuan dunia herbal, BHD punya visi untuk terus menggali produk tanaman yang bernilai fungsional. Alasannya, Indonesia memiliki varietas tumbuhan terbanyak ke dua di dunia setelah Brazil. Namun, dari sekitar 30 ribu jenis tumbuhan herbal, baru sepertiga yang sudah dimanfaatkan sebagai tanaman obat.
Jadi akan lebih bermanfaat jika sambil berwisata pengunjung juga mendapat pengetahuan tentang dunia pengobatan tradisional yang tanpa efek samping namun terus tergilas oleh metode pengobatan modern.
Tak ada salahnya pengetahuan itu sekaligus sebagai oleh-oleh wisatawan kepada sanak saudara atau kerabat untuk membantu mengobati penyakit ringan, jika ada. Selain ramuan herbal mudah dibuat, tanamannya juga bisa dibudidayakan di rumah. (*/M-1)
Foto Galeri :
Sumber : mediaindonesia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar