Home » » Menapaki Jalan Kuno Lisia, Turki

Menapaki Jalan Kuno Lisia, Turki

Home > Kabar Berita > Wisata > Menapaki Jalan Kuno Lisia, Turki

Pegunungan Babadag -- xcmag.com

Menapaki Jalan Kuno Lisia, Turki

LAUT nampak sangat dekat, tapi untuk mencapainya harus menuruni tebing dengan menggunakan tali. Namun, ada pilihan lain yang lebih mudah yaitu bergabung dengan kelompok pejalan kaki di tepi tebing lembah Butterfly. Saat matahari bersinar cerah, perairan di lepas pantai Turki ini akan terlihat indah berkilauan.

Tujuan perjalanan kali ini adalah untuk berjalan kaki selama empat hari di Jalan Lisia, rute pertama di Turki yang menempuh jarak jauh. Jalan ini sepanjang 316 mil yang dimulai dari Ovacik, dekat Fethiye, dan berakhir di Antalya.

Selama perjalanan klasik bernilai sejarah ini, kami melalui jalur kuno dan trek kambing Alexander Agung yang dilacak pernah melalui Lisia pada bulan maret, lebih dari 2.000 tahun yang lalu.

Di sepanjang rute, kami melihat gua batu dan kuburan, peninggalan dari peradaban kuno dan kesempatan untuk berhenti di bekas kota-kota strategis seperti Xanthos dan Patara yang masih menyimpan reruntuhan kuburan dan ampiteater.

Selanjutnya perjalanan akan menuju pegunungan Babadag, yang mengikuti semenanjung Teke (sebelumnya Lycia) dengan Pegunungan Taurus di belakang. Jika melihat ke arah selatan, Anda akan melihat pemandangan pulau Meis dan pulau Rhodes, Yunani.

Selama tujuh mil pertama, kami dibawa pada ketinggian hampir 2.625 kaki sambil melewati kebun zaitun, desa-desa kecil dengan kebun delima dan pohon-pohon murbei, dan juga melihat kura-kura liar sesekali.

Delapan jam kemudian, kami mengikuti aliran air ke peternakan lebah dan desa pertanian Faralya. Setelah tidur dan makan malam di sana, kami kembali berjalan melalui jalur tebing kuno berbatu yang menghadap lembah Butterfly.

Hari berikutnya dimulai dengan berjalan kaki sejauh lima kilometer ke Kabak. Peradaban tiba-tiba datang dalam tampilan dengan rumah penginapan kecil yang tersembunyi oleh bugenvil kusut dengan tanda menunjuk arah ke pantai. Dengan segera kami pun terjun ke laut untuk merasakan kesegaran.

Setelah itu, perjalanan dilanjutkan dengan mendaki sejauh dua mil. Sedikit demi sedikit laut menghilang di belakang kami. Pendakian curam ini melalui hutan pinus yang berbau manis.

Akhirnya, kami memasuki dusun kecil Alinka. Di rumah pertama, seorang anak muda penggembala domba menyambut kami. Sementara ibunya membuat teh sedangkan kami duduk di kursi plastik yang sudah agak reot.

Malam itu kami tinggal di Rumah Bayram di Gey, yang dimiliki oleh walikota desa. Penginapan ini mempunyai enam kasur di lantai. Sambil melewati malam, kami menyantap berbagai makanan seperti daging domba yang dimasak, borek (pastry filo diisi dengan keju dan daging), yufka (sejenis roti), salad dan yogurt dengan sebotol anggur dingin.

Pada hari terakhir, sebelum mencapai teluk Kalkan, kami mengambil bagian yang kurang dikenal karena tidak membaca di panduan penting Kate Clow, The Way Lisia. Seandainya hal itu tidak terjadi, kami akan melewati tebing yang dramatis sepanjang jalan bebatuan terjal. (telegraph/*/X-12)

Sumber : mediainodnesia.com
Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Paket Tour Wisata - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger