AP
Menggapai Tangan Sang Buddha di Negeri Tirai Bambu
Penulis : Raja Suhud
BILA Anda berkunjung ke World Shanghai Expo, rasanya kurang afdol jika tidak mengunjungi paviliun Indonesia yang terletak di area C World Shanghai Expo. Apalagi keikutsertaan Indonesai dalam ajang pameran tingkat dunia ini terhitung istimewa.
Inilah untuk kedua kalinya sejak republik ini berdiri, Indonesia membangun stan atau paviliun tersendiri. Dalam berbagai expo terdahulu, Indonesia biasanya berada dalam satu join paviliun bersama dengan negara-negara lainnya.
Dengan luas sekitar empat ribu meter persegi, paviliun Indonesia yang terletak dalam satu kawasan dengan negara negara Asean lainnya dan Australia, terlihat cukup bersaing. Namun sayang, karena posisinya yang berada agak di pojok membuat 'Rumah Indonesia' yang terdiri dari bangunan tiga lantai itu, tidak tampak menonjol seperti stan Singapura ataupun Malaysia yang berada di tengah-tengah area C itu.
Menggusung tema Indonesian Biodiversity, maka paviliun Indonesia mempresentasikan kehidupan dan keanekaragaman budaya dan lingkungan dari aspek kehidupan, budaya, lingkungan alam, serta sejarah. Pesan yang ingin disampaikan adalah Indonesia merupakan negara di mana keanekaragaman tetap terjaga di berbagai tingkatan.
Karena itulah bagi pengunjung yang mampir ke paviliun Indonesia, akan merasakan cakrawala pandang mereka akan semakin terbuka. Bahwa Indonesia begitu besar dan menyimpan banyak potensi yang siap untuk dikembangkan.
Begitu memasuki area paviliun itu, pengunjung akan disajikan fakta bahwa Indonesia hanya 1,2% dari luasan populasi dunia. Namun Indonesia ternyata menyumbang sekitar 6% dari populasi berbagai keanekaragaman hayati dunia.
Di lantai pertama paviliun Indonesia, pengunjung akan disuguhi pemandangan kehidupan masyarakat yang berada di pulau Kalimantan yang begitu kaya dengan hutan-hutannya. Sementara di lantai dua, bisa menyaksikan berbagai alat-alat tradisional yang ada di Indonesia.
Di pojok antara lantai satu dan dua, paviliun Indonesia menghadirkan stan yang menjelaskan adanya binatang langka dunia yang sedang terancam dari kepunahan yaitu komodo. Pengunjung bisa membubuhkan tanda tangan melalui monitor yang ada di 'pojok' komodo itu sebagai upaya mendukung perlindungan bagi satwa langka dunia itu.
Paviliun Indonesia juga memiliki ruang teater yang memutarkan film menjelaskan kebudayaan yang ada di Indonesia. Bagi Anda yang berasal dari Indonesia, tidak ada ruginya juga menyaksikan film yang diputar di ruang teater itu. Paling tidak untuk menguji seberapa besar pengetahuan anda tentang Indonesia.
Di bagian atas, Anda bisa sejenak bersantai untuk kenikmatan kopi luwak yang cukup terkenal itu. Memandang areal World Shanghai Expo sambil menikmati kopi tradisional Indonesia akan memberikan sensasi berbeda. Hembusan udara Shanghai yang sejuk membuat secangkir kopi panas terasa makin nikmat.
Setelah berada di area paling atas, anda akan meyusuri sisi sebaliknya dari paviliun Indonesia. Pengunjung akan dihadapkan pada ilustrasi bahwa Indonesia sudah bertransformasi menuju masyarakat modern. Hal ini ditujukan dengan pemandangan gedung-gedung perkantoran yang menjulang di kawasan Sudirman District Business Center (SCBD).
Di penghujung paviliun, bisa merasakan pengalaman untuk menjamah tangan sang Buddha yang ada dalam replika stupa di Candi Borobudur. Seperti kepercayaan yang ada selama ini, bagi Anda yang berhasil meraih tangan sang Budha, berarti apa yang menjadi cita-cita dan harapan akan segera terwujud.
Umumnya para pengunjung akan tergerak untuk mencoba peruntungannya. Dan ternyata bukan hal yang sulit untuk meraih tangan sang Buddha yang sedang berdoa itu. Aha..siap-siap impian Anda terkabul. (Uud/M-1)
Sumber : mediaindonesia.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar