Latest Post

Tampilkan postingan dengan label Bandara di Sumatera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bandara di Sumatera. Tampilkan semua postingan

Bandar Udara Radin Inten II, Bandar Lampung - TKG

Home > Tiket Pesawat > Bandara - Bandar udara > Bandara - Bandar Udara di Indonesia > Bandara - Bandar Udara di Sumatera > Bandar Udara Radin Inten II, Bandar Lampung - TKG

Radin Inten II, Bandar Lampung - TKG

Bandara / Bandar Udara Internasional di Indonesia
Bandar Udara Radin Inten II
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bandar Udara Radin Inten II adalah bandara bertaraf internasional untuk kota Bandar Lampung, Provinsi Lampung, Indonesia. Namanya diambil dari seorang tokoh pahlawan nasional RI, Radin Inten II. Bandara Radin Inten II terletak di desa Branti Raya, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Bandara ini sebelumnya bernama Bandara Branti.

Data-data

Bandara ini sebelumnya merupakan bandara bertaraf Domestik , namun pada tanggal 28 Desember 2008 Bandara ini telah di resmikan , sehingga menjadi bandara yang bertaraf internasional. Bandara ini dapat dimasuki oleh pesawat yang berbadan besar seperti ,Boeing 737-200,Boeing 737-300,Boeing 737-400,Boeing 737-500,Boeing 737-800,Airbus A320,Airbus A330,Boeing 747,Boeing 777 dan Airbus A380.

Rencana

Bandara Internasional Radin Inten II di rencanakan akan di bangun di seberang Runway. Ini di akibatkan lahan untuk perluasan wilayah terminal bandara sangatlah sempit dan terlalu dekat dengan jalan raya sehingga tidak dapat lagi di luaskan.diperkirakan akan dibangun pada tahun 2010.pada saat ini sedang dilakukan pelebaran Landasan pacu.

Bandar Udara Fatmawati Soekarno, Bengkulu - BKS

Home > Tiket Pesawat > Bandara - Bandar udara > Bandara - Bandar Udara di Indonesia > Bandara - Bandar Udara di Sumatera > Bandar Udara Fatmawati Soekarno, Bengkulu - BKS

Fatmawati Soekarno, Bengkulu - BKS

Bandara / Bandar Udara Internasional di Indonesia
Bandar Udara Fatmawati Soekarno
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bandara Fatmawati Soekarno adalah bandar udara terkecil di indonesia yang terletak di Kota Bengkulu, provinsi Bengkulu. Dahulu bandara ini bernama Bandara Padang Kemiling, kemudian diresmikan menjadi Bandara Fatmawati Soekarno oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 14 November 2001.

    Bandar Udara Sultan Taha, Jambi - DJB

    Home > Tiket Pesawat > Bandara - Bandar udara > Bandara - Bandar Udara di Indonesia > Bandara - Bandar Udara di Sumatera > Bandar Udara Sultan Taha, Jambi - DJB

    Sultan Taha, Jambi - DJB

    Bandara / Bandar Udara Internasional di Indonesia
    Sultan Thaha Airport
    From Wikipedia, the free encyclopedia

    Sultan Thaha Airport (IATA: DJB, ICAO: WIPA) is an airport in Jambi City in the Jambi province of Indonesia. Located in the Paalmerah suburb of Jambi it has 73 flights departing per week for short haul destinations and 42 medium sized aircraft departing each week. This airport is named after Sultan Thaha, the last Sultan of Jambi.

      Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang - PLM

      Home > Tiket Pesawat > Bandara - Bandar udara > Bandara - Bandar Udara di Indonesia > Bandara - Bandar Udara di Sumatera > Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang - PLM

      Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang - PLM

      Bandara / Bandar Udara Internasional di Indonesia
      Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II
      Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

      Suasana lobby check-in

      Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (kode IATA: PLM) adalah bandar udara internasional yang melayani kota Palembang, Sumatra Selatan dan sekitarnya. Bandara initerletak di wilayah KM.10 Kecamatan Sukarame. Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dioperasikan oleh PT Angkasa Pura 2. Nama bandara ini diambil dari nama Sultan Mahmud Badaruddin II (1767-1862), seorang pahlawan daerah yang pernah memimpin Kesultanan Palembang Darussalam (1803-1819).

      Sejarah Singkat
      Bandara ini pada awalnya dibangun oleh tentara Jepang pada masa pendudukan Jepang antara tahun 1942-1943. Pada 15 Juli 1963, bandara ini menjadi lapangan udara bersama, baik untuk kegunaan sipil maupun militer. Kemudian pada 21 Agustus 1975 status bandara ini menjadi Pelabuhan Udara (Pelud) Sipil Talang Betutu. Pada 3 April 1985, bandara ini berganti nama menjadi Pelud Sultan Mahmud Badaruddin II. Tak lama kemudian istilah Pelud Sultan Mahmud Badaruddin II diubah menjadi Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II pada tanggal 1 September 1985.

      Terhitung 1 April 1991, bandara ini resmi dikelola oleh Manajemen Perum Angkasa Pura II. Pada 2 Januari 1992 Manajemen Perum Angkasa Pura II berganti status menjadi PT (Persero) Angkasa Pura II.

      Pada saat Provinsi Sumatera Selatan resmi terpilih sebagai tuan rumah PON XVI tahun 2004, pemerintah berupaya untuk memperbesar kapasitas bandara sekaligus merubah status bandara ini menjadi bandara internasional. Gedung terminal baru Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II akhirnya berhasil rampung dan diresmikan pada 27 September 2005.

      Peristiwa Woyla
      Pada tanggal 28 Maret 1981, lima orang teroris yang dipimpin Imran bin Muhammad Zein, dan mengidentifikasi diri sebagai anggota kelompok ekstremis Islam "Komando Jihad", membajak pesawat Penerbangan 206 Garuda Indonesia setelah lepas landas dari Pelabuhan Udara Sipil Talangbetutu ke Bandara Polonia, Medan. Pembajakan yang terjadi di Pelud Talang Betutu ini dikenal dengan sebutan Peristiwa Woyla. Penerbangan dengan pesawat DC-9 Woyla tersebut berangkat dari Jakarta pada pukul 08.00 pagi, transit di Palembang, dan akan terbang ke Medan dengan perkiraan sampai pada pukul 10.55. Dalam penerbangan, pesawat tersebut tiba-tiba dibajak oleh lima orang teroris Komando Jihad yang menyamar sebagai penumpang. Setelah mendarat sementara untuk mengisi bahan bakar di Bandara Penang, Malaysia, akhirnya pesawat tersebut terbang dan mengalami drama puncaknya di Bandara Don Mueang di Bangkok, Muang Thai tanggal 31 Maret.

      Peristiwa pembajakan pesawat Garuda DC-9 Woyla yang berangkat dari Pelabuhan Udara Sipil Talangbetutu ini menjadi peristiwa terorisme bermotif "jihad" pertama yang menimpa Indonesia dan satu-satunya dalam sejarah maskapai penerbangan Indonesia.

      Pengembangan
      Bandara ini telah resmi menjadi bandara bertaraf internasional dan bisa didarati oleh pesawat yang berbadan besar pada 27 September 2005. Pengembangan bandara tersebut mulai dilakukan pada 18 September 2003 dengan total biaya Rp366,7 miliar yang berasal dari Japan International Bank Corporation Rp251,9 miliar dan dana pendamping dari APBN sebesar Rp114,8 miliar.

      Antara perkembangan yang dilaksanakan adalah perpanjangan landas pacu sepanjang 300 meter x 60 meter menjadi 3.000 meter x 60 meter, pembangunan tempat parkir kendaraan seluas 20.000 meter yang dapat menampung 1.000 kendaraan serta pembangunan gedung terminal penumpang tiga lantai seluas 13.000 meter persegi yang dapat menampung 1250 penumpang, dilengkapi garbata dan terminal kargo dan bangunan penunjang lainnya seluas 1.900 meter persegi.

      Hasil pengembangan ini membuat Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dapat didarati pesawat Airbus A330 dan sejenisnya serta Boeing 747 . Selain itu, arus penumpang diproyeksikan akan naik dari 7.720 penumpang menjadi 16.560 penumpang. Setelah itu akan ada pembangunan jalan tol Indralaya-Palembang-Bandara Sultan Mahmud Badarudin II untuk mempermudah akses ke Bandara.

      Bandar Udara Minangkabau, Padang - PDG

      Home > Tiket Pesawat > Bandara - Bandar udara > Bandara - Bandar Udara di Indonesia > Bandara - Bandar Udara di Sumatera > Bandar Udara Minangkabau, Padang - PDG

      Minangkabau, Padang - PDG

      Bandara / Bandar Udara Internasional di Indonesia
      Bandar Udara Internasional Minangkabau
      Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

      Bandar Udara Internasional Minangkabau (kode ICAO: WIPT) disingkat BIM adalah sebuah bandar udara yang melayani penerbangan-penerbangan dari dan ke kota Padang, provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Bandara ini berada di daerah Ketaping, Kabupaten Padang Pariaman dan berjarak kurang lebih 19 km dari pusat kota Padang. Bandar udara ini dibangun dengan arsitektur Minangkabau dan memiliki landasan pacu sepanjang 2.750 meter.

      Bandara ini mulai dioperasikan secara penuh pada 22 Juli 2005 menggantikan Bandara Tabing.

      Bandar udara ini memiliki luas total 4.27 km², dengan satu buah landasan (runway), dengan memiliki satu bangunan terminal untuk penerbangan Internasional dan domestik. Bandar udara ini diberi nama Minangkabau sesuai dengan nama suku yang mendiami provinsi ini, dan merupakan bandar udara pertama di dunia yang memiliki nama sebuah suku atau etnis.

      Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru - PKU

      Home > Tiket Pesawat > Bandara - Bandar udara > Bandara - Bandar Udara di Indonesia > Bandara - Bandar Udara di Sumatera > Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru - PKU

      Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru - PKU

      Bandara / Bandar Udara Internasional di Indonesia
      Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II
      Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

      Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II adalah sebuah bandar udara yang terletak di Kota Pekanbaru dan sebelumnya bernama Bandara Simpang Tiga. Bandara ini memiliki luas 321,21 ha. Bandara ini juga menjadi home-base bagi Skuadron Udara 12 TNI AU.

      Direncanakan

      Dibangun Terminal Baru dengan 8 aerobridges Kaya Bandara Bengaluru masih dikonstruksi di tahun 2006 dibuka pada tahun 2012.

      Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang - TNJ

      Home > Tiket Pesawat > Bandara - Bandar udara > Bandara - Bandar Udara di Indonesia > Bandara - Bandar Udara di Sumatera > Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang - TNJ

      Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang - TNJ

      Bandara / Bandar Udara Internasional di Indonesia
      Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah
      Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

      Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah (sebelumnya bernama Bandar Udara Kijang) adalah bandar udara yang terletak di Kota Tanjung Pinang, provinsi Kepulauan Riau. Bandara ini dikelola PT. Angkasa Pura II.

      Statusnya dari dulu adalah internasional, namun dikarenakan Kepulauan Riau belum pisah dari Riau Daratan maka bandara ini jarang dipergunakan. Setelah tahun 2001 Kepulauan Riau resmi menjadi provinsi baru di Indonesia, maka terjadilah pembangunan yang pesat di kota Tanjung Pinang dan bandara ini diramaikan lagi oleh beberapa maskapai penerbangan yaitu Merpati pada tanggal 19 Desember 2007, Sriwijaya Air pada awal bulan Februari 2008 dan Riau Airlines pada pertengahan tahun 2005.

      Pada bulan Mei 2007 pemerintah mengucurkan dana untuk pengembangan Bandara ini. Proyek mulai berjalan pada bulan Juni. Pengembangan bandara meliputi penambahan fasilitas seperti radar dan landasan pacu ditambah sekitar 400 meter dari awalnya yang hanya 1.856 meter menjadi 2.256 meter. Selain itu, gedung terminal bandara juga diperluas dari 1.250 meter persegi menjadi 1.400 meter persegi. Dengan perluasan itu diharapkan dalam satu tahun mampu melayani 600 ribu orang. Pada April 2008 bandara ini resmi berganti nama dari Bandar Udara Kijang menjadi Bandar Udara Internasional Raja Haji Fisabilillah.

      Nama bandara diambil dari nama Raja Haji Fisabilillah, pahlawan nasional yang juga memperoleh Bintang Maha Putra Adi Pradana.

      Jalur penerbangan

      Pada saat ini, hanya jalur Tanjung Pinang ke Jakarta yang dilayani dengan menggunakan pesawat Riau Airlines dan Sriwijaya Air

      Bandar Udara Hang Nadim, Batam - BTH

      Home > Tiket Pesawat > Bandara - Bandar udara > Bandara - Bandar Udara di Indonesia > Bandara - Bandar Udara di Sumatera > Bandar Udara Hang Nadim, Batam - BTH

      Hang Nadim, Batam - BTH

      Bandara / Bandar Udara Internasional di Indonesia
      Bandar Udara Hang Nadim
      Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

      Bandara Hang Nadim adalah bandar udara yang terletak di Kota Batam, provinsi Kepulauan Riau. Dengan landas pacu sepanjang 4.040 meter, bandara ini memiliki landas pacu terpanjang di Indonesia. Hang Nadim mampu menampung delapan belas pesawat berbadan lebar jenis Boeing 767.

      Bandara Hang Nadim mulai beroperasi pada 9 Agustus 1965 dengan melayani penerbangan domestik. Sejak 1 Januari 1994, bandara ini juga melayani penerbangan internasional dengan jumlah penerbangan mencapai 250 kali per minggu.

      Maskapai penerbangan

      • Batavia Air (Jakarta,Pontianak)
      • Citilink Garuda (Surabaya)
      • Garuda Indonesia (Jakarta)
      • Indonesia AirAsia (Jakarta)
      • Mandala Airlines (Padang,Jambi,Jakarta)
      • Riau Airlines (Dumai, Jambi, Natuna, Pangkalpinang)
      • Lion Air (Pekanbaru, Jakarta,Surabaya)
      • Merpati Nusantara Airlines (Pekanbaru, Padang, Palembang)
      • Singapore Airlines
      • Silk Air (Singapura)
      • Sriwijaya Air (Jakarta, Medan)

      Bandar Udara Polonia, Medan - MES

      Home > Tiket Pesawat > Bandara - Bandar udara > Bandara - Bandar Udara di Indonesia > Bandara - Bandar Udara di Sumatera > Bandar Udara Polonia, Medan - MES

      Polonia, Medan - MES

      Bandara / Bandar Udara Internasional di Indonesia
      Bandar Udara Internasional Polonia
      Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

      Bandara Internasional Polonia (kode IATA: MES; kode ICAO: WIMM) adalah sebuah bandar udara internasional yang terletak sekitar 2 km dari pusat kota Medan, Indonesia. Bandara ini melayani penerbangan ke kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Batam dan juga ke Malaysia (Kuala Lumpur, Penang, Ipoh) dan Singapura. Dihitung dari jumlah arus penumpang, Polonia adalah bandara terbesar keempat di Indonesia setelah Soekarno-Hatta, Juanda, dan Ngurah Rai.

      1 Sejarah
      2 Data dan statistik
      3 Terminal
      • 3.1 Kebakaran pada tahun 2006 dan 2007
      4 Masalah dengan letak dan masa depan
      5 Maskapai bersama tujuan
      • 6.1 Terminal Domestik
      • 6.2 Terminal Internasional
      Sejarah

      Nama Polonia berasal dari nama negara asal para pembangunnya, Polandia (Polonia merupakan nama "Polandia" dalam bahasa Latin). Sebelum menjadi bandar udara, kawasan tersebut merupakan lahan perkebunan milik orang Polandia bernama Baron Michalsky. Tahun 1872 dia mendapat konsesi dari Pemerintah Belanda untuk membuka perkebunan tembakau di Sumatra Timur di daerah Medan. Kemudian dia menamakan daerah itu dengan nama Polonia, sebuah daerah di negeri kelahirannya.

      Tahun 1879 karena suatu hal, konsesi atas tanah perkebunan itu berpindah tangan kepada Deli Maatschappij (Deli MIJ) atau NV Deli Maskapai. Tahun itu terdapat kabar pionir penerbang bangsa Belanda van der Hoop akan menerbangkan pesawat kecilnya Fokker dari Eropa ke wilayah Hindia Belanda dalam waktu 20 jam terbang. Maka Deli MIJ yang memegang konsesi atas tanah itu, menyediakan sebidang lahan untuk diserahkan sebagai lapangan terbang pertama di Medan.

      Pada tahun 1924, setelah berita pertama tentang kedatangan pesawat udara itu tidak terdengar, maka rencana kedatangan pesawat udara kembali terdengar. Mengingat waktu itu sangat pendek, persiapan untuk lapangan terbang tidak dapat dikejar, akhirnya pesawat kecil yang diawaki van der Hoop yang menumpangi pesawat Fokker, bersama VN Poelman dan van der Broeke mendarat di lapangan pacuan kuda yakni Deli Renvereeniging, disambut Sultan Deli Sulaiman Syariful Alamsyah.

      Setelah pesawat pertama mendarat di Medan, maka Asisten Residen Sumatera Timur Mr. CS Van Kempen mendesak pemerintah Hindia Belanda di Batavia, agar mempercepat dropping dana untuk menyelesaikan pembangunan lapangan terbang Polonia. Pada 1928 lapangan terbang Polonia dibuka secara resmi, ditandai dengan mendaratnya enam pesawat udara milik KNILM, anak perusahaan KLM, pada landasan yang masih darurat, berupa tanah yang dikeraskan. Mulai tahun 1930, perusahaan penerbangan Belanda KLM serta anak perusahaannya KNILM membuka jaringan penerbangan ke Medan secara berkala. Pada tahun 1936 lapangan terbang Polonia untuk pertama kalinya melakukan perbaikan yaitu pembuatan landasan pacu (runway) sepanjang 600 meter.

      Pada tahun 1975, berdasarkan keputusan bersama Departemen Pertahanan dan Keamanan, Departemen Perhubungan dan Departemen Keuangan, pengelolaan pelabuhan udara Polonia menjadi hak pengelolaan bersama antara Pangkalan Udara AURI dan Pelabuhan Udara Sipil. Dan mulai 1985 berdasarkan Peraturan Pemerintah No 30 Tahun 1985, pengelolaan pelabuhan udara Polonia diserahkan kepada Perum Angkasa Pura yang selanjutnya mulai 1 Januari 1994 menjadi PT. Angkasa Pura II (Persero).

      Data dan statistik

      Bandara Polonia mempunyai luas sebesar 144 hektar. Panjang landasan pacu saat ini adalah 2.900 meter, sementara yang dapat digunakan sepanjang 2.625 meter (sehingga terdapat displaced threshold sebesar 275 meter). Hal ini terjadi karena banyaknya benda yang menghalang di sekitar tempat lepas landas dan mendarat. Polonia juga memiliki 4 taxiway dan apron seluas 81.455 meter. Polonia dirancang untuk dapat memuat maksimum sekitar 900.000 penumpang.

      Dari tahun ke tahun arus penumpang Polonia cenderung mengalami peningkatan antara 15 hingga 20 persen. Pada tahun 2003, arus penumpang mencapai sebesar 2.736.332 orang, naik dari 2.090.519 orang pada tahun sebelumnya. Jumlah pergerakan pesawat adalah 36.359 pada tahun 2003, naik dari 29.894 pada tahun 2002. Tercatat ada 13.713 penerbangan domestik dan 4.387 penerbangan internasional dari Polonia pada 1998. Pada 2004 jumlahnya telah mencapai 35.100 penerbangan domestik dan 8.266 penerbangan internasional.

      Dari segi jumlah penerbangan, pada 1998 terdapat 56 penerbangan dalam sehari, namun pada tahun 2005 telah meningkat antara 125 hingga melebihi 150 penerbangan perhari, dengan penumpang lebih kurang 3,8 juta orang pertahun, baik domestik dan internasional.

      Di bidang transportasi barang, pada tahun 2005 pergerakan kargo di Polonia mencapai 31.347 ton

      Terminal

      Terdapat dua terminal penumpang di Polonia, satu terminal keberangkatan dan satu untuk kedatangan, dan jika ditotal luasnya mencapai 13.811 meter². Keduanya juga masing-masing dibagi untuk penerbangan domestik dan internasional. Terminal domestik Polonia mempunyai luas 7.941 meter² dan saat ini (laporan Januari 2006) menampung 1.810 orang yang datang bersamaan, sehingga setiap penumpang mempunyai luas 4m², kurang dari standar sebesar 14m² yang ditetapkan pemerintah. Mulai 1 Oktober 2006, menyusul peristiwa penyimpangan muatan barang di Bandara Soekarno-Hatta pada September 2006, dioperasikan pula sebuah terminal kargo satu pintu yang diharapkan dapat menertibkan pergerakan kargo dan mencegah terjadinya manipulasi muatan barang.

      Kebakaran pada tahun 2006 dan 2007

      Sebuah kebakaran menghanguskan seluruh dari terminal kedatangan internasional pada 9 Maret 2006, namun tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Sebab kebakaran diduga adalah arus pendek.[7] Kebakaran kembali terjadi pada 1 Desember 2007 namun kali ini terjadi di terminal keberangkatan domestik. Hampir seluruh gedung terminal terbakar dalam peristiwa ini.

      Pada 7 Mei 2008, Polonia kembali beroperasi penuh setelah terminal keberangkatan domestik baru selesai dibangun

      Masalah dengan letak dan masa depan

      Akibat letaknya yang sangat dekat dengan pusat kota – sekitar 2 km – bandara ini menyebabkan bangunan-bangunan di Medan dibatasi jumlah tingkatnya. Dampak dari peraturan ini adalah sedikitnya jumlah bangunan tinggi di Medan. Selain itu, bandara ini juga diperkirakan sudah atau hampir melebihi kapasitasnya. Sejak pemberian izin penerbangan diringankan di Indonesia pada tahun 2000-an, jumlah penerbangan yang melayani Polonia meningkat tajam.
      Bandara Polonia tidak mempunyai garbarata sehingga para penumpang harus berjalan melalui tarmac untuk mencapai pesawat.

      Menurut rencana, bandara ini dalam beberapa tahun ke depan akan dipindahkan ke Kuala Namu, di Kabupaten Deli Serdang. Pada 29 Juni 2006, wakil presiden Indonesia, Jusuf Kalla, meresmikan pembangunan Bandara Kuala Namu. Setelah Kuala Namu mulai beroperasi, Polonia direncanakan akan dialihkan fungsinya menjadi sebuah central business district (CBD) serta 40% lahannya diperuntukkan bagi sebuah kebun raya

      Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh - BTJ

      Home > Tiket Pesawat > Bandara - Bandar udara > Bandara - Bandar Udara di Indonesia > Bandara - Bandar Udara di Sumatera > Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh - BTJ

      Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh - BTJ

      Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda
      Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

      Bandara Sultan Iskandar Muda adalah sebuah bandar udara untuk melayani Kota Banda Aceh dan sekitarnya, yang terletak di wilayah Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Bandara ini dikelola oleh PT Angkasa Pura II, untuk melayani rute domestik dan internasional, Saat ini sudah ada satu penerbangan internasional, yaitu Air Asia ke Kuala Lumpur.

      Maskapai
      • Garuda Indonesia (Jakarta)
      • Jatayu Airlines (Medan) [mengakhiri operasinya]
      • Lion Air (Jakarta)
      • Sriwijaya Air (Jakarta)
      • Pelangi Air (Meulaboh)
      • Air Asia (Kuala Lumpur)

        Bandara - Bandar Udara di Sumatera

        Home > Tiket Pesawat > Bandara - Bandar udara > Bandara - Bandar Udara di Indonesia > Bandara - Bandar Udara di Sumatera

        Bandara di Sumatera

        Bandar Udara Internasional
        1. BTJ - Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh
        2. MES - Bandar Udara Polonia, Medan
        3. BTH - Bandar Udara Hang Nadim, Batam
        4. TNJ - Bandar Udara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang
        5. PKU - Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru
        6. PDG - Bandar Udara Minangkabau, Padang
        7. PLM - Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang
        8. DJB - Bandar Udara Sutan Taha, Jambi
        9. BKS - Bandar Udara Fatmawati Soekarno, Bengkulu
        10. TKG - Bandar Udara Radin Inten II, Bandar Lampung
        Bandar Udara Domestik
        1. SBG - Bandar Udara Maimun Saleh, Sabang
        2. LSX - Bandar Udara Lhok Sukon, Aceh Utara
        3. LSW - Bandar Udara Malikus Saleh, Lhokseumawe
        4. MEQ - Bandar Udara Cut Nyak Dhien, Nagan Raya
        5. TPK - Bandar Udara Teuku Cut Ali, Tapaktuan
        6. SKL - Bandar Udara Syekh Hamzah Fansyuri, Singkil
        7. SNB - Bandar Udara Lasikin, Sinabang
        8. SIW - Bandar Udara Sibisa, Toba Samosir
        9. SQT - Bandar Udara Silangit, Siborong-borong
        10. SIX - Bandar Udara Dr. Ferdinand Lumban Tobing, Sibolga
        11. AEG - Bandar Udara Aek Godang, Padang Sidempuan
        12. GNS - Bandar Udara Binaka, Gunung Sitoli
        13. LSE - Bandar Udara Lasondre, Pulau-pulau Batu
        14. DUM - Bandar Udara Pinang Kampai, Dumai
        15. SEQ - Bandar Udara Sungai Pakning, Bengkalis
        16. PPR - Bandar Udara Pasir Pengaraian, Pasir Pengaraian
        17. SIQ - Bandar Udara Dabo, Singkep
        18. RGT - Bandar Udara Japura, Rengat
        19. TJB - Bandar Udara Sei Bati, Karimun
        20. NTX - Bandar Udara Ranai, Natuna
        21. MWK - Bandar Udara Matak, Pal Matak
        22. RKO - Bandar Udara Rokot, Sipura
        23. DJB - Bandar Udara Sultan Thaha Syarifuddin, Jambi
        24. KRC - Bandar Udara Depati Parbo, Kerinci
        25. BKS - Bandar Udara Fatmawati Soekarno, Bengkulu
        26. MPC - Bandar Udara Mukomuko, Mukomuko
        27. PGK - Bandar Udara Depati Amir, Pangkalpinang
        28. TJQ - Bandar Udara H. A. S. Hanandjoeddin , Tanjung Pandan
        29. LLG - Bandar Udara Silampari, Lubuklinggau
        30. PDO - Bandar Udara Pendopo, Empat Lawang
        31. TKG - Bandar Udara Radin Inten II, Bandar Lampung
           
          Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
          Copyright © 2011. Paket Tour Wisata - All Rights Reserved
          Template Created by Creating Website Published by Mas Template
          Proudly powered by Blogger