Home » » Tiket Pesawat Rp0,- Tidak Berarti Gratis Lho!

Tiket Pesawat Rp0,- Tidak Berarti Gratis Lho!

Home > Kabar Berita > Penerbangan > Tiket Pesawat Rp0,- Tidak Berarti Geratis Lho!


Tiket Pesawat Rp0,- Tidak Berarti Gratis Lho!
Oleh : Dennis & Donny Orlando

Dalam sebuah penerbangan salah satu maskapai swasta, si Dede merengek, "Pa, aku mau jus jeruk sama coklat." Pramugari yang berpakaian rapih dengan tatanan rok panjang

potongan dilipatan samping dan sepatu hak tinggi tersenyum sambil berkata, "Ini dek, hemm.. Semuanya tiga puluh dua ribu rupiah, mas." Dede hanya bisa tertawa gembira dan melahap coklatnya dengan wajah ceria sedangkan papanya harus merogoh kocek sebesar lima puluh ribu untuk "kebahagiaan"nya. Pramugari memberi senyum terbaiknya sambil mengembalikan uang kembalian lalu berjalan menawarkan makanan atau minuman kepada penumpang lainnya meninggalkan papa yang dengan berat hati memasukkan uang tersebut kedalam dompet ditambah raut wajah sedikit kusut sambil mengutuk singkat.

Sebagian besar dari kita mungkin pernah mengalami kondisi yang sama seperti cerita di atas. Atau bahkan kondisi ekstrim seperti ini, kita hanya bisa duduk termenung di ruang tunggu bandara selama 1-2 jam hanya untuk menunggu pesawat yang terlambat (delay) karena alasan operasional. Atau yang lebih ekstrim lagi, jika ternyata jadwal penerbangannya ditunda sampai hari esok dan terpaksa bermalam di bandara.

Saat kita bercerita kepada orang lain, hal pertama yang keluar dari ucapannya pastilah, "Kasihan banget kamu. Makanya jadi orang jangan ke-banget--an pelitnya!" Kita pun mulai mengerutkan alis karena kesal, berpikir dan menganalisa bahwa kenyataannya seperti yang dikatakan lawan bicara kita.

Fenomena Sampai Tragedi-nya

Zaman sekarang, teknologi ibarat mainan sehari-hari bagi pemakainya. Bagi para pelaku bisnis, manfaat teknologi dirasa mampu dan digunakan sebagai salah satu faktor penambah jumlah pendapatan mereka. Bagi para "pembeli", atau istilah halusnya pemakai jasa yang ditawarkan pelaku bisnis tadi, perlu sedikit lebih cermat dan cerdas dalam menentukan pilihan. Termasuk memilih maskapai penerbangan mana yang akan membawa kita sampai pada tujuan dengan aman dan tanpa rasa jengkel tentunya.

Tercatat tujuan wisata domestik ke luar negeri khususnya kawasan ASEAN mengkukuhkan negara singa atau Singapura sebagai negara tujuan utama untuk berwisata atau sekitar 43,9 persen. Lalu negara jiran atau Malaysia sekitar 25,4 persen kemudian disusul negara gajah putih atau Thailand. Salah satu biro tur travel domestik juga ikut mencatat bahwa wisatawan domestik yang melakukan tur pulau Bali dan pulau Seribu naik sekitar 20-50 persen dibanding tahun lalu. Dan selama kuartal tiga tahun 2009, tercatat uang wisatawan domestik yang dihabiskan di luar negeri mencapai 1,441 miliar dollar AS (sekitar Rp 14 triliun) atau naik 8,9 persen dari kuartal dua lalu sebesar 1,323 miliar dollar AS. Hasilnya, 10 juta orang berwisata baik tujuan domestik maupun luar negeri dalam sehari. (Kompas.com)

Hasrat berwisata manusia terbilang cukup tinggi. Faktor ini membuat para pelaku bisnis maskapai penerbangan enggan rasanya jika tidak memanfaatkan sifat manusia yang satu ini. Mulai dari menambah jumlah pesawat yang diterbangkan dengan jangkauan dalam dan luar negeri, atau menambah shift penerbangan hingga 12 kali dalam sehari. Tidak cukup hanya bagian operasional yang ditingkatkan, bagian marketing juga. Justru disinilah ujung tombaknya. Bayangkan apabila jumlah pesawat sudah ditambah, tapi promosi ke masyarakat tidak ada, yang terjadi malah "pengkaratan" mesin pesawat karena jarang di operasikan.

Mulai muncul iklan-iklan promosi maskapai penerbangan yang intinya ingin memberitahu masyarakat bahwa, "Ini lho, kami lagi promosi, harga tiket kami Rp 0,-. Anda sudah bisa berwisata kemana-mana, bersama siapa saja dan kapan saja. Ayo pesan sekarang, kursi kami terbatas. Siapa cepat, dia dapat!" Tanpa berpikir panjang, kita sudah duduk di depan komputer, memilih destinasi tujuan serta waktu penerbangan, lalu men-klik tombol OK dan akhirnya meng-update status di facebook (salah satu situs jejaring sosial), "Asyik! Liburan akhir tahun ini bakal shopping di Singapore. Haha.." Tiba jadwal tagihan kartu kredit harus dilunasi, kita meng-update status lagi, "Yah.. Tagihan bulan ini koq gede sih?? Padahal kemarin ngak belanja apa2. Huh.." Lalu terlintas dibenak kita, liburan akhir tahun. Ternyata setelah di hitung-hitung, harga tiketnya tidak semurah yang kita pikirkan.

Strategi Perusahaan

Harga tiket murah dapat ditempuh dengan dua strategi penekanan pengeluaran untuk biaya operasional. Yang pertama yaitu Low Fare Carrier, prinsipnya harga yang harus dibayarkan pembeli ditekan serendah mungkin, tapi tetap mendatangkan keuntungan bagi perusahaan tanpa mengurangi fasilitas bagi flyer. Tujuan perusahaan maskapai penerbangan menjalankan strategi ini, supaya mereka tidak kehilangan kepercayaan dan jumlah pembeli ketika masa-masa peak season (masa-masa ketika anak sekolahan liburan atau hari besar nasional dengan hari libur yang panjang misalnya natalan dan libur tahun baru) dari perusahaan maskapai penerbangan lainnya. Karena jika ada satu saja perusahaan yang menawarkan harga murah, maka banyak pembeli pasti tergiur dengan perusahaan tersebut dan perusahaan lawannya akan kehilangan pembeli.

Yang kedua yaitu Low Cost Carrier, prinsipnya pemotongan biaya pengeluaran seperti meningkatkan manajemen waktu yang ketat untuk take land dan take off pesawat dan meniadakan beberapa layanan premium atau mengoptimalkannya. Tujuan perusahaan maskapai penerbangan menjalankan strategi ini adalah memancing pembeli tertarik pada harga tiket dengan tag-line murah. Biaya tambahan untuk fasilitas tidak dimasukkan dalam harga tiket, yang tertera hanya biaya penerbangan serta pajak penerbangan. Intinya, kita hanya membayar apa yang diperlukan dan membayar lebih untuk apa yang diinginkan.

Low Cost Carrier paling sering digunakan perusahaan maskapai penerbanganharga tiket otomatis akan turun, karena hanya komponen biaya utama yang kita bayar. Ibaratnya makan siang di restoran Padang. Jika kita hanya ingin menyantap nasi dengan tambahan sepotong daging ayamg goreng, yang dibayarkan tentu hanya harga nasi dan daging tersebut ditambah pajak restoran. Tapi bila kita ingin mencicipi rasa perkedel dan telur atau menambah lauk pauknya, tentu yang dibayarkan juga akan ditambah dengan harga perkedel, telur dan tambahan lauk pauknya. Ada atau tidak tambahan biaya perkedel dan telur, kita tetap telah mengisi perut yang kosong disela-sela kesibukan dengan sepiring nasi beserta potongan ayam goreng. Perkedel atau telur hanya akan menambah kepuasan semata.

Delay Adalah Keharusan ?

Keterlambatan pesawat atau delay adalah konsekuensi dari pengoptimalan sistem manajemen waktu penerbangan pesawat. Penjelasannya mudah dan cukup masuk diakal. Bermula dari kebijakan jumlah frekuensi penerbangan yang ditingkatkan hingga dua kali atau bahkan tiga kali frekuensi normal dalam sehari. Sehingga pembeli dapat menentukan waktu lebih rinci penerbangannya.

Perlu diperhatikan, misalkan tercatat waktu penerbangan pukul 10.00 WIB, penerbangan kedua pukul 10.30 WIB, penerbangan ketiga pukul 11.00 WIB, penerbangan keempat pukul 11.30 WIB dan seterusnya dengan tenggang waktu 30 menit untuk setiap penerbangan dengan destinasi yang sama. Kapasitas pesawat dapat menampung 200 orang. Ternyata, pada penerbangan pertama hanya ada 30 penumpang, penerbangan kedua ada 50 penumpang, dan pada penerbangan ketiga ada 80 penumpang. Get the point?

Inilah yang disebut pengoptimalan sistem manajemen waktu penerbangan pesawat. Dengan nomor penerbangan yang sama, namun jadwal penerbangan yang sudah berubah. Tentu akan lebih menguntungkan dan optimal apabila ke 160 penumpang (jumlah dari penumpang padajadwal penerbangan pertama, kedua dan ketiga) diterbangkan pada satu pesawat yang hakikinya merupakan pesawat untuk penerbangan ketiga. Bagi penumpang pada jadwal ketiga tentu tidak merasakan yang disebut delay, berbeda dengan penumpang pada jadwal kedua dan pertama yang akan merasakan delay masing-masing selama 30 menit dan 1 jam. Faktor keberuntungan sangat berperan ketika hendak memilih jadwal penerbangan.

Yang Ada dan Tiada

Selanjutnya, tinjauan terhadap biaya operasional pesawat. Perusahaan maskapai penerbangan tidak memberikan layanan penjatahan kursi bagi para pembelinya. Artinya, di boarding pass tidak tertera nomor kursi tempat duduk. Siapa duluan naik ke pesawat, dia bebas memilih tempat yang disukainya untuk duduk. Kesannya seperti berebut tempat duduk di angkutan kota. Dengan strategi ini, perusahaan dapat menekan pengeluaran untuk biaya operasional di bagian check in menjadi rendah. Mereka hanya perlu menjatah jumlah penumpang yang ikut dalam penerbangan dan tidak perlu menyewa seseorang untuk menyusun urutan tempat duduk penumpang.

Tidak naik pesawat kalau tidak membawa bagasi, kira-kira beginilah kebudayaan yang ada di masyarakat. Perusahaan maskapai penerbangan biasanya tidak memberi layanan bagasi untuk menekan harga tiket. Kita harus membawa serta barang bawaan naik ke pesawat dan meletakkannya di kabin barang yang ada diatas tempat duduk. Dengan kondisi ini, membawa barang bawaan yang sedikit adalah perilaku yang sangat bijak dan tergolong cerdas. Tapi bila diperlukan layanan bagasi, kita harus membayar extra pada harga tiket.

Masih ingat cerita anak kecil di pembukaan? Iya, perusahaan maskapai penerbangan tidak memberi fasilitas apapun bagi penumpangnya di dalam pesawat kecuali tempat duduk, ruang untuk menyimpan barang bawaan dan toilet umum (ini hal mutlak). Tidak akan ada pembagian makanan ataupun minuman kepada para penumpang. kecuali membeli. Pramugari-pramugari akan mulai menjajakan beberapa makanan dan minuman ringan serta beberapa souvenir untuk dijual sesaat setelah pesawat take off dan berada pada kondisi melayang dengan stabil di udara. Harganya tergolong mahal untuk ukuran makanan dan minuman ringan bila dibandingkan dengan yang dijual didaratan.

Rahasia Dibalik Rp 0,-

Beberapa biaya tambahan seperti biaya tambahan untuk asuransi keselamatan juga ditiadakan. Hitung-hitungannya biaya operasional ditambah biaya fasilitas tambahan seperti bagasi, makanan atau minuman, biaya asuransi dan lain-lain adalah biaya yang dapat dihilangkan perusahaan maskapai penerbangan untuk mempromosikan harga tiket Rp 0,- atau harga tiket ber-tagline murah. Tetapi, biaya utama seperti biaya bahan bakar pesawat dan pajak penerbangan adalah harga yang wajib dibayarkan pembeli untuk melakukan dengan alat transportasi pesawat terbang. perjalanan wisata

Akhir kata, semoga tidak ada lagi protes atau bahasa kasarnya "kutukan" yang keluar dari masyarakat, ketika mendapati bahwa ternyata tiket pesawat yang dibelinya tidak semurah yang diangan-angankan. Dibalik simbol "Rp0,-", masih ada biaya yang wajib dibayarkan. Dalam perusahaan jasa, marketing-lah ujung tombak perusahaan. Dan sebagai pembeli, kita dituntut untuk mempertimbangkan berbagai promosi yang diluncurkan perusahaan maskapai penerbangan. Membayar sesuai dengan yang dibutuhkan dan diperlukan. Jadilah bijak dan cerdas, karena tiket pesawat seharga Rp 0,- tidak berarti gratis.***

Penulis adalah Mahasiswa UGM, jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian.
Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Paket Tour Wisata - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger