Puisi-Puisi I Putu Gede Pradipta
Yang Retak yang Pecah
Ada kebingungan yang sungguh menjenggala
Teramat akut di dalam sini
Dan secawan getah tubuh pekat yang melekat
Juga sebaris doa sakratul berbias gema Tuhan
Namun engkau masih tak mempercayaiku
Padahal gejala telah membenih sekujur luka
Membuka sederet kenangan purba
Muasal dari segala candu ini bermula
Kita kunjungi Alengka
Kita datangi Dwaraka
Kita tarikan jilat api
Kita pentaskan demam
Hanya kian memapah sekarat jiwa
Denpasar, 25 September 2010
(Saniscara Umanis Watugunung-Hari Raya Saraswati)
Cinta Pertama
Cinta pertama kita yang beretiket jantung merah masih kusimpan di dada
Walau kini aku tak lagi menapak jarak kita
Mungkin begitu gegas musim berganti
Lalu kita disihir awan-awan hingga lupa pada masa lalu
Tapi yang meluka di ingatanku adalah ciuman pertama
Di ruang tamu bercat merah jambu beraroma melati
Kita bagai sepasang kekasih yang melupa waktu
Andai Tuhan tak mengutus temanmu sebagai pengganggu
Tentu bibir kita tak ingat lagi bagaimana ludah bertemu
Denpasar, 22-24 September 2010
Nisbi
Sebelum kutanam julang menara
di ujung bukitmu yang ranum
menjelang hari sakratul
tak bosan kita mengutuk maut
dalam pentas kolosal tari setubuh
menggarap tiga belas episode nanar
berlatar lengking gagak
menyibak pekat langit
Bulan menciut
berlayar menjauh
bintang buta
malam dilangsamkan kutuk waktu
Berapa tamu memadat
panggung kita makin cadas dan bernafsu
menjilat tiap helai keringat yang gugur
kita pun kian culas membakar tenaga
Dan dia hanya menumpuk trenyuh
di balik mata berkabut
alih-alih beranjak tua
dan terlupakan
itulah kita nanti
September 2010
Kusimpan Rinduku
:suandewi
1.
Di senja selepas jumpa kutemukan kau mengganjal bagai batu
Sedang khusuk menenun rambut yang sebelumnya telah lama kusut
Semenjak tuhan menitipkanmu pada rahim perempuan
Yang kemudian menjadi ibumu
2.
Katamu, sesal tak pernah melahirkan aku
Walau kerap memaksaku
Mencuri bianglala yang terpetakan melingkar
Senantiasa mencuatkan hujan rindu dari ratapan matamu
3.
Sempat kau tinggalkan wangi bibirmu di meja-meja kayu perpustakaan
Aku jadi ingat bagaimana aku merayumu sambil membaca buku
Untuk menyembunyikan malu yang meluap di mataku
Berkali-kali bibirmu melepas senyum namun tetap kusenandungkan ragu
“Adakah cinta yang membujuk kita untuk berada disana?”
4.
Laut telah sewangi tubuhmu, menelusup hidung dan menyemai riak di pikiran
Masuklah aku ke perut laut mencari arah labirin pikiranmu yang mengurai
Kerap kau celup di hulu sungai, berlari berkejaran dipacu arus, terendap di dasar laut
Entah kutemukan yang kucari sebelum matahari benar-benar menyengat kulit
Nangka Utara, Agustus-September 2010
Journey
Seberapa jauh pun kita akan mencari
kita jumpai hanya sebagian dari kenangan
yang telah berlalu
membeku di lorong waktu
menyisakan gema di rongga dada
dan selalu muncul bila ada waktu
yang tiba-tiba meleleh di pikiran
terkadang menyumbat perasaan
mengganjal kita
untuk sementara.
Sampai kita sadar
bahwa kita begitu cepat berlalu.
Nangka Utara, 21/22-09-2010
(setelah menikmati film everything is illuminated)
Memoar
Mengenangmu dalam sebingkai kenangan
Akan selalu membuatku iri
Pada waktu yang telah berlalu
Dan selalu ingin kuputar ulang nostalgia
Bertemu, lalu bercumbu di bawah rimbun pohon jambu
Hingga bibir kita merekah
Seumpama bunga padma di telaga
Aku ingat kata-katamu
Mengapa kita harus melakukan ini?
Karena kita saling mencintai
Karena kita berjanji menikah di suatu hari nanti
Pipimu memerah
Aku terkesima
Kita berdua basah dalam keringat
23 September 2010
Putu Gede Pradipta lahir tanggal 18 Desember 1988. Beralamat di Jln. Nangka Utara, Denpasar-Bali. Sempat menempuh pendidikan Biologi beberapa semester (tak selesai) di dua universitas berbeda yaitu UNDIKSHA Singaraja dan UNMAS Denpasar. Kini waktunya dipakai untuk memperdalam dunia tulis-menulis.
Sumber : http://oase.kompas.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar